Thursday , December 14 2017
Home / Inspirasi / Jika Hidup tidak untuk ibadah

Jika Hidup tidak untuk ibadah

Ya, jika hidup tidak untuk ibadah selalu membuat saya berpikir keras dan merenung, sudahkah hidup ini saya gunakan untuk ibadah kepadaNya, sudahkah semua yang saya raih di gunakan di jalanNya. Memang banyak cara yang dapat kita lakukan untuk bisa beribadah kepadaNya di luar dari yang pokok seperti Sholat, Puasa, dll. Contohnya kalau kita bekerja dengan niat untuk menafkahi keluarga, memberikan sedikit apa yang telah kita peroleh untuk orang yang berhak dan membutuhkan menurut saya itu juga sebagai ibadah, atau jika kita diberikan kelebihan ilmu, kita gunakan untuk kebaikan dan kemalasatan umat, itu juga merupakan ibadah. Tapi kebanyakan dari kita hanya terlena dan selalu mementingkan dunia yang bersifat materi.
Puisi ini saya dapat beberapa tahun yang lalu dari email seorang sahabat dan Setiap membacanya saya selalu diingatkan selalu tentang tujuan hidup di dunia ini. Mudah mudahan puisi ini dapat selalu mengingatkan kita semua tentang tujuan hidup ini. Semoga bermanfaat.
Jika Hidup Tidak untuk Ibadah

Terus Aku mau ngapain?
Aku pergi pagi
Dengan semangat mencari duniawi
Jika angkot macet, langsung berganti sewa taksi
Agar harta buruan tidak beralih dari sisi

Aku pulang malam
Dengan jasad yang kelelahan
Sampai di rumah mendekam sampai pagi datang

Mungkin Aku lupa
Rasulullah saw bagaikan rahib di malam hari
Dan menjadi singa di siang hari
Sementara Aku
Tak peduli siang tak peduli malam
Yang penting dunia dalam genggaman

Sahabat sedikit aku ingin renungkan
Apa sih yang ingin kugapai sampai harus membanting tulang
Apa sih yang ingin kubangun hingga pagi datang
Apa sih yang ingin kuraih hingga tubuh begitu meradang

Jujur saja, untuk urusan perutku bukan?
Buat beli martabak atau nasi
Masuk perut dan kemudian raib menjadi kotoran

Jujur saja, untuk urusan rumah tempat Aku tinggal bukan?
Buat beli keramik, AC ataupun busa
Dinikmati, rusak, ganti lagi tak berkesudahan

Jujur saja, untuk urusan kesenangan anak-anak yang Aku rindukan bukan?
Buat pakaian, mainan, ataupun poster-poster idaman
Dinikmati, menghilang dari pandangan

Jika Aku hidup hanya untuk itu semuanya
Maka harga diriku
Nilainya sama dengan apa yang Aku makan
Nilainya sama dengan apa yang Aku keluarkan dari perut hitam
Nilainya sama dengan apa yang Aku rindukan

Karena jasadku tak ubahnya tembolok karung
Tempat penyimpanan semua makan yang Aku makan
Karena jasadku tak ubahnya perekat
Tempat semua kesenangan dunia melekat

Sepekan, setahun, sewindu Aku bangun sejuta pundi uang
Ternyata Aku lupa bahwa kelak yang ku bangun itu pasti ku tinggalkan
Ternyata Aku lupa bahwa tempat tinggalku sesudahnya hanya lubang yang kelam

Tapi sahabat
Jika engkau hidup untuk ibadah
Tidak ada setitik harapan pun yang kelak dirugikan
Tiada seberkas amal pun yang tiada mendapat balasan

Tapi di dalamnya penuh ujian dan batu karang
Dan engkau harus yakin penuh akan janji Allah
Tapi di dalamnya tidak lekas kau dapatkan keindahan
Dan engkau harus yakin bahwa inilah jalan kebaikan

Sahabat
Janganlah terlena dengan kesenangan fana
Janganlah terlena dengan gemerlapnya dunia
Itulah yang Allah berikan sebagai hak para musyrikin di dunia
Tiada usah kamu iri dan berpikir tuk hanyut bersamanya
Karena kau tahu kehidupan mereka sesudahnya adalah neraka
Dan mereka kekal di dalamnya

Sahabat
Jangan sia-siakan hidup di dunia
Bangun rumah ibadah
Jika kau diluaskan harta, kembalikan di jalan Allah
Jika kau diluaskan waktu, hibahkan di jalan ibadah
Jika kau diluaskan tenaga, berikan untuk lapangnya jalan dakwah
Jika kau diluaskan pikiran, gunakan untuk merenungi ayat-ayat-Nya
Jika kau diluaskan usia, maksimalkan berikan yang terbaik untuk-Nya

Sahabat
Jalan ibadah inilah yang membedakan kita
Dengan para pendusta ayat-ayat-Nya
Dan jika engkau hidup di dunia ini tidak untuk tegakkan risalah-Nya
artinya Akupun sama dengan mereka
Yang lebih menyukai neraka ketimbang surga
Dan jika engkau hidup di dunia ini sebagai tujuan
Ingatlah bahwa tak lama lagi ruhkupun bakal dicabut dari raga

Karena
Ternyata Aku akan sama dengan ayam
Yang pergi pagi pulang petang
Kurang petang tambahin nyampe tengah malam–

Tapi masih mendingan ayam
Karena ia rutin bangun sebelum adzan
Dan teriakkan lagu keindahan
Tapi kamu
Rutin subuh setengah delapan
Apalagi kalo akhir pekan
Bisa jadi subuh hengkang dari pikiran

Tapi masih mendingan ayam
Karena ia berani pilih makanan yang ia inginkan
Tapi Aku
Aku embat semua yang ada di hadapan
Tidak peduli daging, tumbuhan, ataupun batu hitam
Naudzubillah …..

Mudah-mudahan Allah masih berkenan menatap kita, Saat ini….
Hanya sekedar menatap kita, tak lebih

Digubah dari puisi “Jika Hidup Tidak Untuk Dakwah” by Agus Sudjarwo

 

About keumala

Check Also

Dua bocah Bijaksana

Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi tuk coba taklukkan ibukota negri …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *